Banda Aceh– Pada 29 Agustus 2019, Pusat Riset STEM Unsyiah yang didukung oleh Unsyiah dan Usaid berhasil menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Ruang KPA 2 Lt.3 Gedung Biro Unsyiah. FGD ini bertujuan untuk mengumpulkan pihak-pihak terkait untuk berdiskusi membahas STEM-C Planning Workshop pada Pendidikan Anak Usia Dini. Kegiatan ini dihadiri oleh 20 orang diantaranya turut hadir Bapak Zainal Arifin selaku Kepala Bank Indonesia Wilayah Aceh, Bapak Jaelani dan Bapak Marwan yang merupakan perwakilan dari Dinas Pendidikan Kota Banda Aceh. Dalam pertemuan ini, Pusat Riset STEM juga turut mengundang Ketua Prodi PAUD Unsyiah, Ketua HIMPAUDI Kota Banda Aceh, Bunda PAUD dari Bungong Seleupoek dan PAUD Inti TK FKIP Unsyiah, Ketua PR-PMRI Ibu Rahmah Johar, Bapak Qismullah Yusuf, dosen sains dari FMIPA Unsyiah dan mahasiswa Fisika Pascasarjana Unsyiah.

Bermula saat Pusat Riset STEM Unsyiah bersama Dr. Hizir WR IV Unsyiah dan Prof. Abdi yang merupakan Ketua MPA melakukan audiensi ke Bank Indonesia wilayah Aceh terkait program ISLE-Based STEM yang sedang dicoba implementasikan di tingkat SMA. Bapak Zainal Arifin selaku Kepala BI Wilayah Aceh sangat antusias dan mendukung secara moril program tersebut. ISLE-Based STEM merupakan sebuah pendekatan dengan model pembelajaran yang mengintegrasikan Scince, Technology, Engineering and Mathematics yang berbasis Investigative Science Learning Environment. Sejauh diskusi bersama, tercetuslah ide dari Bapak Zainal Arifin perlu adanya penambahan unsur karakter sebagai ruh pembelajaran ke dalam STEM tersebut. “Kita harus mempersiapkan generasi kita untuk 15 tahun yang akan datang. Dengan persaingan global saat ini, anak-anak kita perlu dibekali STEM. Namun STEM saja tidak cukup. Ibarat 5 jari, STEM telah memenuhi empat jari, maka untuk bisa menggenggam masa depan dengan kuat dan stabil perlu ibu jari sebagai pelengkap yaitu karakter.” ucap Kepala BI.  Inilah yang membedakan antara STEM Aceh dengan STEM yang dikembangkan oleh lainnya dan pendidikan karakter ini perlu dimulai sedini mungkin. Aceh melalui pembelajaran STEM-C berupaya untuk mewujudkan Aceh Caroeng, Meuadat dan Bermartabat. Akhirnya diputuskan program STEM-C dicoba kembangkan dalam bentuk pembuatan modul ajar untuk anak-anak Pendidikan Usia Dini. Kepala Dinas Pendidikan Kota Banda Aceh menyambut baik dan membuka peluang kerja sama yang seluas-luasnya teehadap program bersifat kreatif, inovatif dan mendidik.

Pada kegiatan FGD tersebut, Bapak Marwan mewakili Dinas Pendidikan Kota menyatakan siap mendukung program ini. Beliau juga menyampaikan kegiatan ini harus mengikuti regulasi yang berlaku sehingga menjadi legal. Penerapan STEM-C dilakukan melalui Pilot Project. Program STEM-C di sekolah model ini akan dievaluasi dan jika hasilnya baik maka akan diterapkan di sekolah lainnya. Pada pertemuan tersebut bunda-bunda dari kedua PAUD juga menyampaikan rasa senangnya dilibatkan dalam program ini. “Selama ini, program pendidikan lebih banyak difokuskan untuk jenjang pendidikan atas. Jarang sekali ada yang mengikut sertakan bunda-bunda PAUD. Padahal, anak usia dini juga generasi bangsa dan perlu dipersiapkan pendidikannya dengan bagus dan bunda pun perlu dibekali dengan pengetahuan terbaru terkait pendidikan untuk anak generasi Z dan Alfa.” Ungkap Maryani.

“Kami dari Himpaudi menyatakan dukungan terhadap Program STEM-C untuk anak usia dini. Harapan kami adanya kepedulian berbagai pihak dalam mengawal pembentukan karakter anak. Sekolah, orang tua dan masyarakat harus bersatu padu dalam membenah karakter anak. Sehingga kita bisa bersama-sama mempersiapkan generasi kita sebagai anak yang cerdas dan berkarakter.” ucap Sekretaris Himpaudi.

Kegiatan ini mendapat respon yang positif dari banyak kalangan. “Kita akan koordinasi lebih lanjut dan segera mempersiapkan modul STEM-C. Selain itu, pada Oktober mendatang kita akan adakan event untuk mendeklarasi STEM-C ini, sehingga lebih banyak pihak yang akan tergabung dan mendukung program ini.” Ucap Dr. Hizir.

“Selama ini, kami para dosen sudah terbiasa membuat modul pembelajaran bagi siswa sekolah level SMP, SMA dan Universitas. Untuk level PAUD ini menjadi tantangan baru, salah satunya tantangan dalam menyederhanakan bahasa sains yang rumit untuk dikemas dalam bentuk yang menarik bagi anak-anak. Berbagai dukungan dan masukan sangat kita harapkan untuk terwujudnya modul STEM-C ini.” Tutup Co-PI Pusat Riset STEM unsyiah, Ibu Rini Oktavia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *