Pusat Studi Science, Technology, Engineering and Mathematics (STEM) Universitas Syiah Kuala telah mengadakan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Review Kurikulum 2013 Tingkat SMP dan SMA/Sederajat.” Kegiatan yang dilaksanakan pada hari selasa, 20 Maret 2018 di Auditorium FKIP Unsyiah ini bertujuan untuk mengkaji SWOT analisis, berkenaan dengan Strengths (kekuatan), Weaknesses (kelemahan), Opportunities (peluang) serta Threats (ancaman) dalam penerapan Kurikulum 2013 (K13) untuk tingkat SMP dan SMA/Sederajat dan kaitannya dengan pembelajaran STEM (Sains, Teknologi, Engineering/Teknik dan Matematika).

Rangkaian acara terdiri dari sesi seminar dan diskusi terkait Kurikulum 2013 untuk mata pelajaran Sains Tingkat SMP dan SMA/Sederajat dengan menghadirkan narasumber yang kompeten di bidangnya. Materi Kurikulum 2013 terhadap pembelajaran sains tingkat SMA/Sederajat disampaikan langsung oleh Drs.Laisani, M.Si yakni Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Banda Aceh. Adapun Materi Kurikulum 2013 terhadap pembelajaran IPA Terpadu tingkat SMP/Sederajat disampaikan oleh Syaridin, S.Pd., M.Pd yang merupakan Kepala Dinas Pendidikan Kota Banda Aceh. Selain dua pemateri tersebut, terdapat juga pemateri yang membahas tentang pembelajaran STEM, yaitu Dr. Syukri, S.Pd., M.Ed (Dosen FKIP Fisika Unsyiah) menjelaskan tentang Pendidikan STEM dan Kurikulum Fisika. Prof. Dr. Adlim, M.Sc (Dosen FKIP KIMIA Unsyiah) menjelaskan tentang Pembelajaran STEM melalui sains kimia. Dr. Rahmah Johar, S.Pd., M.Pd (Dosen FKIP Matematika Unsyiah) menjelaskan tentang Penerapan Model Project-Based Learning Berbasis STEM untuk meningkatkan Kemampuan Spasial Siswa.

Dalam FGD tersebut, Ketua Pusat Studi STEM Unsyiah Irwandi, Ph.D juga mensosialisasikan kepada para guru SMP dan SMA yang hadir dalam kegiatan tersebut terkait model pembelajaran ISLE berbasis STEM. ISLE sendiri merupakan singkatan dari Investigative Science Learning Environment, adalah sebuah model yang dikembangkan oleh Dr. Eugenia Etkina, seorang profesor Ilmu Pendidikan Sains dari Rutgers University, USA dan juga sebagai mitra pendukung dalam PEER Project yang sedang dilaksanakan oleh Irwandi, Ph.D, Dr. Rini Oktavia, M.Si., M.A, dan Dr. Rajibussalim, M.Sc., M. Info Tech. Model ISLE berbasis STEM ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan ilmiah siswa dengan melibatkan langsung praktik sains ke dalam proses pembelajaran. Dalam ISLE, siswa belajar dengan mengamati fenomena nyata, menganilisis pola, merancang penjelasan dan menguji percobaan mereka (Etkina, 2015).

Peserta FGD berasal dari berbagai kalangan baik akademisi, praktisi, dan pemerintah yang bergerak di bidang pendidikan. Hasil diskusi dinyatakan dalam beberapa poin yang tentunya hal tersebut dapat menjadi rekomendasi-rekomendasi untuk meningkatkan mutu pendidikan Aceh terutama di bidang Sains, Teknologi, Engineering dan Matematika. Poin-poin tersebut adalah sebagai berikut :

Strengths (kekuatan)

“Dari perspektif saya yang seorang instruktur K13, saya melihat kurikulum 2013 ini kurikulum yang berbasis kompetensi, ketika kita mengajar, disana ada namanya Kompetensi Dasar (KD). Nah, selain itu K13 ini menggunakan pendekatan saintifik, kita semua pasti tahu 5M (mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi dan mengkomunikasikan). Meskipun STEM dan ISLE ini baru bagi saya, namun saya melihat kedua hal tersebut memiliki tempat di dalam K13 ini dalam prosesnya. Karena K13 mengajak kita semua menggunakan pendekatan saintifik. Pendekatan besarnya itu saintifik, namun model-modelnya tidak dibatasi. Ada beberapa model yang sering dibicarakan Discovery Learning, Problem Based Learning, Project Base Learning, nah semua itu dipopulerkan untuk memudahkan di dalam pembelajaran K13. Namun tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan model-model lain. Saya melihat mungkin jika kita fokuskan pada fisika atau sains ada peluang untuk menerapkan model ISLE berbasis STEM tadi”. (Widya Iswara, LPMP Aceh)

“Menurut yang saya pahami STEM itu sendiri kalau kaitannya dengan guru, apalagi guru bidang studi kita mengkaitkan sains ilmu yang biasanya guru itu orientasinya terhadap materi atau teori saja. Sementara dengan adanya STEM kita melakukan bagaimana menstransfer materi itu, kalau menurut saya itu bisa dipadukan untuk membuat sebuah media pembelajaran yang menarik, sehingga si anak ketika mendengarkan materi dari guru itu tidak membosankan. Siswa juga perlu melewati proses berfikir dalam belajar. Siswa tidak hanya menghafal tetapi guru juga perlu menstimulus anak untuk berfikir kreatif dan kritis sehingga apa yang siswa dapatkan dari STEM tadi itu dibawa tidak hanya SMP atau SMA saja tetapi akan dilanjutkan ke Universitas. Mungkin ini yang akan membuat si anak ini lebih mengerti konsep suatu materi pelajaran. Saya rasa STEM ini perlu kita adakan semacam tindak lanjut dan kami sangat berharap bahwa FGD ini tidak hanya cukup sampai di sini, saya rasa perlu guru-guru Aceh semuanya tau tentang STEM, karena menurut saya ini merupakan salah satu hal menarik. Kenapa tidak, mungkin dari STEM ini justru mampu mendongkrak nilai UN sendiri bagi anak-anak dan mungkin tingkat pendidikan Aceh akan meningkat dari yang semula berada di posisi dua puluhan bisa naik menjadi belasan”. (Nofianti, S.P, MAS Ruhul Islam Anak Bangsa)

 

Weaknesses (kelemahan)

“Ketika saya dulu mengambil program magister, tesis saya tentang STEM yaitu Pengembangan Modul STEM Terintegrasi Kewirausahaan. Dan ketika saya berada di lapangan ada beberapa kendala yang saya hadapi, pertama dari segi biaya, kemudian waktu, satu hal yang paling menarik adalah ada siswa yang bertanya seperti ini “Ibu, kita kan sudah lama-lama buat kegiatan ini, setelah itu kita jual, uangnya balik lagi ke kita, sekolah tidak ada apresiasi apa-apa kepada kita. Ujung-ujungnya Bu, yang kita hadapi itu adalah UN dan juga SMPTN. Jika hal seperti ini terus kita lanjutkan, bagaimana kami mampu menyelesaikan soal melalui metode ini Bu?” (Siska Aristia, S.Pd., M.Pd, SMAN 4 Banda Aceh)

“STEM ini pastinya memerlukan banyak waktu saat proses pembelajaran, sedangkan disekolah pembelajaran Fisika hanya 1 jam. 1 jam pembelajaran itu tidak penuh 60 menit tetapi 45 menit, dan dalam satu minggu itu fisika mendapatkan waktu 4 jam. Artinya dalam satu kali pertemuan tidak akan selesai jika menggunakan metode STEM, mungkin 3 kali pertemuan atau lebih. Jadi mungkin kelemahannya itu di waktu. Sehingga nanti dikhawatirkan materi-materi lainnya akan terabaikan, meskipun fokus K13 ini materi yang tidak tuntas tidak boleh dilanjutkan ke materi yang lain. Tetapi materi yang lainnya itu juga penting karena waktu UN, SBMPTN, semua materi itu dikeluarkan”. (Lia Olisma, SMA Plus Al-Athiyah Banda Aceh)

 

Opportunities (peluang)

” Saya rasa di sekolah perlu menambahkan satu divisi lagi yang bernaung di bawah Osis, yaitu divisi inovasi atau STEM Center atau STEM Club, sehingga ada tempat untuk menyalurkan hobi dan bakat bagi anak-anak yang menyukai STEM. Sehingga nantinya mereka bisa mengikuti lomba-lomba inovasi seperti robotic dan lain-lain. Banyak juga beasiswa-beasiswa untuk inovasi-inovasi tersebut dan itu lebih baik dari pada hanya UN.” (Dr. Rahmah Johar, S.Pd., M.Pd, Dosen FKIP Matematika Unsyiah)

 

Threats (ancaman)

“Saya pikir sebelum kita menerapkan STEM dalam pembelajaran K13, mungkin terlebih dahulu kita perlu melihat apakah dalam setiap Kompetensi Dasar (KD) yang ada di fisika, kimia, biologi, atau matematika itu punya keterkaitan? Karena selama ini walaupun dikatakan K13 pembelajarannya sudah direvisi menggunakan pembelajaran 4c, tetapi terus terang saya selaku guru matematika melihat bahwa di matematika itu yang dituntut adalah menyelesaikan permasalahan saja sebenarnya secara kuantitatif jadi tidak ada aplikasi. Kemudian jika mengkaji untuk menerapkannya di fisika mungkin, tidak ada satu KD antara fisika dengan matematika yang bisa sejalan di kelas yang parallel. Katakanlah misalnya kelas 2 IPA. Di kelas 2 IPA ada materi limit misalnya. Apakah di fisika ketika di kelas yang sama juga ada materi yang berkaitan dengan penerapan limit? Jadi barangkali ketika menerapkan STEM mungkin langkah pertama yang harus kita teliti atau yang kita kaji lebih jauh koordinasi antara KD mata pelajaran itu pada tingkat kelas parallel. Dan kepentingan bagi siswa itu seperti apa?” (Mutia Fariha, MAN 3 Banda Aceh)

 

Please follow and like us:
20

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *